Skip to main content

Survivor's Eyes of Chris Ekral, An Apocalyse Story

 

Survivor's EyesSurvivor's Eyes by Chris Ekral
My rating: 3 of 5 stars

Survivor’s Eyes is not your typical post-apocalyptic thriller. Instead of relying solely on action or gore, this novel delivers a deeply reflective meditation on humanity, morality, and the fragility of civilization once the thin veneer of order is stripped away.

The story follows an unnamed man, a solitary survivor navigating a world left in ruins after a mysterious virus. Yet the virus is not the true destroyer; panic, fear, and human brutality bring society to its knees. Across eight chapters, we witness his encounters with death, despair, fleeting connections, betrayal, and eventually, a faint glimmer of hope.

Early chapters focus on stark survival and symbolism: a decaying ship blasted apart by cannon fire becomes a metaphor for civilization, a satchel of money reduced to kindling shows the collapse of old values, and wine represents both comfort and dangerous escapism. As the narrative progresses, he meets other figures: a woman offering a fragile bond, a young girl whose trauma highlights the brokenness of trust, and eventually a small community that still clings to cooperation, education, and dignity.

One of the novel’s strongest aspects is its use of symbolism. The ship, the money, the wine, and the community each carry thematic weight, transforming simple survival events into allegories about humanity itself. The narrative voice is contemplative, at times poetic, and often melancholic—more a lament for humanity than a fast-paced action tale.

Still, the book is not without flaws. The pacing occasionally drags, particularly in chapters heavy with introspection (such as the reflections on wine or extinction). Secondary characters remain thinly drawn, often more symbolic than fully realized, and dialogue is scarce. Readers looking for relentless tension may find the story too heavy or slow. Yet for those who appreciate reflective prose and philosophical undertones, these same qualities become its strengths.

Ultimately, Survivor’s Eyes reads like an elegy for human civilization. It reminds us that what destroys societies is not only disease or disaster but human cruelty, fear, and greed. And yet, amid the ruins, it offers a glimmer of hope: that empathy, knowledge, and simple human bonds are the true treasures worth preserving.

This is not a novel that merely entertains. It makes you pause, think, and maybe, realize something.


View all my reviews

Isi & Alur Cerita

Novel ini mengikuti perjalanan seorang penyintas tunggal dalam dunia pasca-apokaliptik setelah sebuah virus misterius melanda. Namun virus hanyalah pemicu—yang benar-benar menghancurkan manusia adalah kepanikan, kekerasan, dan kebrutalan sesama. Ada 8 bab (aku membaca versi Inggrisnya sekaligus menerjemahkannya untuk koleksi pribadi -- 2 halaman awal aku post di Tiktok) yang 4 bab awalnya berisi:

  • Bab 1 – Kapal: Dibuka dengan penuh aksi, tokoh utama melarikan diri dari kapal tua yang dihantam meriam oleh sekelompok bajingan mabuk. Kapal menjadi simbol peradaban lama yang akhirnya hancur.

  • Bab 2 – Tas: Menemukan tas berisi uang di reruntuhan kota, hanya untuk sadar bahwa uang tak lagi punya arti selain bahan bakar api. Kritik tajam pada nilai-nilai lama.

  • Bab 3 – Anggur: Alkohol jadi pelarian dari kesepian, tapi juga simbol rapuhnya peradaban yang dulu megah.

  • Bab 4 – Keteguhan: Pertemuan dengan seorang wanita, usaha membangun koneksi, hingga harus membunuh untuk menyelamatkannya. Ada secercah harapan melalui hubungan manusia.

Novel ini tidak ditutup dengan kemenangan, melainkan kesadaran pahit: bahwa peradaban bisa runtuh bukan oleh virus, tapi oleh manusia sendiri. Namun, di tengah kehancuran, masih ada secercah harapan lewat komunitas, pengajaran, dan sisi kemanusiaan yang bertahan. 

Kelebihan

  1. Simbolisme yang kuat: kapal = peradaban, uang = nilai lama, anggur = nostalgia, komunitas = harapan.

  2. Nuansa filosofis mendalam: bukan sekadar survival story, tapi renungan tentang manusia, moral, dan peradaban.

  3. Atmosfer pasca-apokaliptik hidup: dari kota hancur, reruntuhan, hingga kerumunan brutal—semua divisualisasikan detail.

  4. Progres emosi tokoh utama: dari putus asa → refleksi → harapan → trauma → menemukan makna baru.

Kekurangan

  1. Tempo lambat di beberapa bab: terutama bab penuh refleksi (Bab 2, 3, 6). Bisa terasa repetitif bagi pembaca yang lebih suka aksi.

  2. Minimnya karakterisasi tokoh lain: wanita, gadis, atau bahkan komunitas di Bab 7 hanya jadi “sosok simbolik,” tidak berkembang jauh.

  3. Dialog terbatas: sebagian besar isi adalah monolog batin. Membuat novel terasa lebih seperti catatan refleksi ketimbang interaksi sosial.

  4. Nada melankolis berat: novel ini muram dari awal hingga akhir, hanya sedikit jeda cahaya. Cocok untuk pembaca serius, tapi mungkin berat untuk pembaca umum.

Kesimpulan

Survivor’s Eyes adalah novel pasca-apokaliptik yang lebih filosofis daripada penuh aksi, lebih reflektif daripada penuh plot twist. Ia menyoroti kerapuhan peradaban, kebrutalan manusia, dan makna kemanusiaan di tengah kehancuran.

Meskipun kadang lambat, novel ini berhasil meninggalkan kesan: bahwa dalam dunia yang hancur, harapan terakhir bukanlah teknologi, uang, atau kekuasaan—melainkan hubungan manusia, empati, dan pengetahuan yang kita wariskan.

Comments

  1. Hmmmm baca review nya ini semacam novel yang memerlukan pemikiran mendalam agar kita tidak merasa bosan dalam membaca nya ..apalgi novel ini lebih banyak monolog nya jadi kadang berasa monooton kalo yg suka novel penuh aksi..
    Sebuah cerita tentang kehancuran peradaban itu suka membuatku berpikir sendiri bagaimana ya kondisi nanti saat peradaban ini sedikit demi sedikit mulai rapuh,,jadi berasa deg2an sendiri kalo bayangin nya

    ReplyDelete
  2. WOW kok aku seperti diajak untuk bertemu dengan novel ini. Bicara soal peradaban dan perjuangan jadi satu hal yang sangat menarik belakangan ini. Lama juga tidak baca Novel. Sepertinya jadi pilihan yang sangat menarik. Thanks sudah mengulasnya ya.

    ReplyDelete
  3. Jujur ini bukan novel dengan genre yg aku suka. Apalagi pas tahu banyak monolog nya, aduuuuuh , jadi kayak baca buku filsafat 😅.

    Tapi paham kok, banyak orang yg suka genre berat begini. Aku prefer untuk baca review atau spoiler kalo udh buku2 yg berat

    ReplyDelete
  4. Kayanya berat banget ya bukunya. Mungkin bukan genreku yang lebih suka novel aksi kaya The Hunger Games, LOTR atau Harpot.

    Tapi aku suka kesimpulan yang ditulis di atas "harapan terakhir bukanlah teknologi, uang, atau kekuasaan—melainkan hubungan manusia, empati, dan pengetahuan yang kita wariskan."

    Bener banget sih ini. Di tengah masyarakat yang semakin individualistis, terasa banget nilai-nilai mulai bergeser.

    ReplyDelete
  5. Ya ampun jadi keinget masa muda masa remaja suka baca novel kek gini. Walau di beberapa bagian alurnya lambat tapi biasanya tu kyk bikin penjelasan menjadi lebih masuk akal. Tapi emang tergantung selera sih ya soal hal ini.
    Tapi emang satu yang disesali kyknya yang jadi fokus cuma karakter utama ya, yang lain kek "pajangan" aja padahal bisa diekslpor lagi.
    Monolog batinnya kebanyakan yaa, curiga nih penulisnya juga introvert hehe :D

    ReplyDelete
  6. Kadang yang paling menakutkan memang bukan virus atau bencana, tapi bagaimana manusia saling memperlakukan satu sama lain saat peradaban runtuh.

    Bagian simbolisme seperti kapal, uang, dan anggur menurutku keren. Simbol-simbol itu bikin cerita jadi lebih dalam dan bikin pembaca mikir panjang, bukan sekadar ikut tegang dalam adegan survival.

    Novel ini kayaknya cocok buat dibaca kalau lagi pengen merenung tentang arti kemanusiaan di tengah kehancuran.

    ReplyDelete
  7. Kalau genrenya ke-thriller tapi alurnya jadi lambat, maka terasa membosankan ya Kak?
    Bahasan tentang bab 1, menurut daku seru, walau belum pernah baca bukunya sih hehe
    Ada rasa penasaran untuk dibaca langsung, karena ide cerita yang diangkat bisa membuat ledakan pertanyaan apa dan mengapa, apalagi soal alasan peradaban manusia bisa hancur.

    ReplyDelete
  8. sebelum ke novel nya, saya pahami itu kalau ternyata virus hanyalah pemicu karena yang benar-benar menghancurkan manusia adalah kepanikan, kekerasan, dan kebrutalan sesama. itu relevan banget kan sama kondisi kita saat ada penyakit atau masalah datang

    btw soal novelnya, saya bakalan suka deh, meskipun melow tapi seperti itu akan terasa leboh detail

    ReplyDelete
  9. Novel novel seperti ini kadang plot twistnya tidak terduga. Novel thriler begini bikin penasaran dan tegang juga saat membacanya. Mau cari bukunya ah, penasaran jadinya pengen baca juga.

    ReplyDelete
  10. Sepertinya novel ini harus dibaca dalam kondisi beneran senggang supaya bisa maksimal membaca dan memahami maksudnya.

    Kebayang, plot twist aja suka bikin gimana gitu, apalagi ini wahhh. Banyak pembelajaran berharga dan mesti menyadarkan para pembacanya. Bahwa harta, kekuasaan dan jabatan seringkali nggak bisa diandalkan dalam posisi kehancuran dan yes, hubungan antar manusia, kepedulian, kebersamaan menjadikannya lebih berarti. Semua berpusat pada manusianya.

    Menarik banget novel Survivor’s Eyes. Boleh lah nanti ku cari. Apakah masih tersedia? Kiranya di toko buku mana?

    ReplyDelete
  11. Kisah soal masa apokalitik di mana manusia sudah tidak bisa menikmati kehidupan seperti biasanya ini selalu menarik karena di masa itu semua tantangan dan kesulitan akan terjadi semoga tidak akan mengalaminya ya hanya dalam tahap novel maupun film karena kalau mengalaminya pasti akan susah sekali.

    ReplyDelete
  12. Saya sudah terbiasa membaca novel atau buku anak yang bertema ringan. Jadi untuk novel ini, saya perlu waktu tenang untuk membacanya. Dan dari ulasannya, ini alurnya mengalir walau lambat ya. Bagaimana awal kisah kapal yang dihantap meriam, lalu menemukan sebuah tas, sampai merasa kesepian dan bertemu seorang perempuan.

    ReplyDelete
  13. Dari desain sampul bukunya terlihat ini tipe buku yang secara tertarik sengaja aku baca deh kak. Tapi ternyata dari genre yang cukup mencekam seperti ini bakal dapet banyak simulasi yang semalam itu ya kak. Salah satunya soal empati dan ikatan sesama manusia yang sekarang ini mulai luntur rasanya

    ReplyDelete
  14. Wah, aku belum pernah baca novel dengan genre seperti ini
    Nampaknya ceritanya seru ya, penuh aksi gitu
    Tapi bacanya pasti sambil mencekam ya

    ReplyDelete
  15. Seruuu nih novel genre seperti ini.
    Banyak plot yg bikin kita geleng2
    beneran jadi pengin bacaaaa

    ReplyDelete
  16. Mbak, sepertinya novel ini harus meluangkan waktu khusus untuk membaca dan mencernanya ya? Aku merasa kok seperti diajak berlajar filsafat ya. Jujurly aku belum pernah baca novel berat seperti ini

    ReplyDelete
  17. filsafat yaa. kalo agak ringan tuh aku suka suka aja. tapi kalo terlalu berat kayaknya bakalan butuh waktu dan energi yang cukup banyak hehe. bukan tipikal yang bisa dibaca waktu lagi butuh hiburan ya.

    ReplyDelete
  18. Kalau melihat cover novel Survivor's Eyes, sangat menarik ya.. penasaran gitu sama isinya.
    Dan dark side-nya dapeett banget!
    Kalau baca sinopsisnya, jadi beneran kenangan tentang pandemi dan teori-teorinya serasa nyata dan bangkit kembali.

    ReplyDelete
  19. Novel dengan minim dialog biasanya memerlukan waktu lebih lama buat menyelesaikannya, itu aku, hahaha.
    Saya agak lambat membaca kalau monolog melulu, tapi itu pilihan sih.
    Dan baca review jujur ini, saya agak mikir dulu sebelum memutuskan membaca novel ini.

    ReplyDelete

Post a Comment